CERPEN Dan PUISI

Minggu, 01 Mei 2016

romance


First love (part 2)


       Hujan kembali turun sore ini, aku terpaksa menunggu hujan reda didepan ruang fitnes, kulihat nabila sedang bersandar ditembok sambil menengadahkan tangannya.
  ngapain kamu liatin aku? , ucapnya
“ pede banget sih kamu,  siapa juga yang  ngeliatin  ”, gerutuku
” ya udah sana pergi,  ngga usah ganggu..
“kamu aja sana, masih ujan gede gini kok..
       Nabila justru malah berlari menerjang hujan yang masih deras,  aku kaget , nekad benar dia.

       Sebulan sudah nabila sudah menjadi siswi baru. Rasa penasaranku tentang siapa sebenarnya nabila semakin memuncak, apa lagi saat kulihat dilehernya terdapat sebuah kalung liontin.
“ liontinya bagus, dapet dari mana ?” tanyaku
“apa siiihh, ngga usah gangguin gue dehh..
“iihhh, siapa yang gangguinn, gue Cuma nanya doang kok?
“ buat apa nanya-nanya, ini tuh kalung spesial banget, ngga bakal lo dapetin dimanapun, “  . setelah itu dia langsung bergegas meninggalkanku.
 “ gue yakin banget dia pasti nabila “ ucapku dalam hati.

       Hujan terus mengguyur banjarnegara hari ini,Kulangkahkan kakiku menuju koperasi, karena rasa lapar ini sudah hampir mencapai puncaknya. Namun, langkahku terhenti saat kulihat kerumunan siswa ditaman.
  pada liatin apa sih rame banget ?  tanyaku pada seorang siswa.
  itu nabila pingsan ..
  nabilaa? Ulangku tak percaya, kuterobos kerumunan itu hingga kudapati nabila sedang terbaring tak bersdaya, spontan aku langsung bergegas membawanya ke UKS.

       Sejam berlalu namun nabila tidak kunjung sadar, aku menjadi semakin khawatir,sesuai saran dokter, setelah insiden itu dia langsung dibawa kerumah sakit, entah mengapa aku menawarkan diri untuk menunggunya, seperti ada perasaan yang sangat mengganjal setiap aku melihatnya . rintikan air hujan semakin deras membasahi bumi, bersamaan dengan nabila yang mulai sadarkan diri.
“ kamu ngga papa ? kamu sebenernya kenapa sih ? tanyaku
       Beberapa saat nabila diam, namun aku tetap menunggunya memulihkan kondisinya, sekali lagi ku pandangi dia, sampai lagi-lagu aku teringat pada sosok masa lalu.
“Sebenernya dulu aku pernah sakit atersia bilier, tapi sekarang udah enggak kok”
“apa ? kok bisa “?
“sekitar sebulan yang lalu ada orang tua yang baik bangret mau ngasih hati anaknya buat cangkok hati buat aku, dan untungnya tubuh aku bisa neriima hati itu”
“kenapa bisa ngasih “?  Tanyaku semakin penasaran,
“iyaa, orang anaknya sendiri yang bilang, kalo dia mau meniggal, katanya dia mau ngedonorin bagian tubuhnya buat orang yang ngebutuhin,”
Berarti yang donorin itu udah meninggal “?
“yaap, dia sakit apa gitulah aku ngga tau namanya lupa, kita sempet satu rumah sakit, dia juga dimakamin dibanjar kok, dia asli sini”
“ apa kamu bilang ? dia asli sini? Namanya siapa ?  rasa penasaranku semakin memuncak.
“namanya sama kaya aku nabila juga, emang kenapa ?” tanya nabila bingung.
“ngga mungkiiin, jangan bilang kalo namanya nabila natasya ? “ tanyaku tak percaya,
“iyaa, emangnya kamu kenal “ ? nabila tampak bingung
“ akuu.. akuu sahabatnya dulu...”  ucapku terbata-bata
jadi kamu riyan yang selama ini nabila ceritain ?  tanyanya tak percaya
“ cerita apa ?
“banyaak, yang jelas kamu tu orang yang spesial banget buat dia”
       Ruangan itu kembali hening, aku tak percaya,  sahabat yang selama ini aku nantikan kedatanganya nyatanya tidak akan pernah lagi bisa kulihat, pantas asaja setiap kulihat nabila selalu terbayang-bayang nabila sahabatku, hati itu, yaa, hati itu lah yang membuatku melihat bayangan dari nabila.
       Kulihat nabila mulai meraih sesuatu dari tasnya, “  yaan, ini aku ada sesuatu buat kamu” ucap nabila sambil memberikan sepucuk surat buatku
       Kuraih surat itu , lalu kubaca,butir-butir air mata mulai mengalir, tak tahan ku menahanya,

Dear riyan
      Apa kabar ? aku harap baik-baik aja, waktu kamu baca surat ini, bisa dipastiin kalo aku udah ngga ada disamping kamu lagi.
      Maafin aku yaa, aku ngga bisa nepatin janji aku buat ketemu bareng kamu lagi,hidup aku udah berakhir yan, tuhan udah pangggil aku buat pulang, kuatin diri ya.
       Maaf juga aku nggak pernah cerita sama kamu tentang penyakit aku, selama ini aku diem karena aku nggak pengen bikin kamu tambah sedih yaan, aku pengen kamu ngeliat aku sebagai nabila yang kuat, semangat dan sehat.   
       Dari dulu sebenernya ada yang mau aku omongin sama kamu,ya tapi ngga pernah bisa kesampai karena aku sadar aku ngga akan lama hidup didunia ini, aku sayang sama kamu yaan, lebih dari sayang seorang sahabat, aku yakin kamu pasti juga ngerasain hal yang sama,  sekali lagi aku minta maaf buat semua kebohongan yang udah aku buat.

                                                                                                 Peluk cium 
                                                              nabila
       
       Tikk tikk, awan kembali menjatuhkan butiran-butiran air mata langit, memunculkan kesedihan kembali, aku masih tak percaya dengan kenyataan ini.
       Hujan menyimpan banyak cerita tentang kita, aku tak pernah berharap banyak pada hujan,yang aku minta hanya jangan sampai hujan pisahkan aku lagi dengan orang yang kusayangui, karena aku ingin menikmati iindahnya langit setelah hujan bersama dia, orang yang kucintai.


     

Minggu, 17 April 2016

romance


First love

      Pukul tujuh.. Jam pertama.. bel masuk pun terdengar, bersama dengan suara tetesan air hujan yang mulai menetesi lapangan basket sekolah, “haah hujan lagi-hujan lagi”  kataku dalam hati.Aku memang benci hujan, tetesan air hujan bagaikan sebuah magnet yang selalu menarik kembali kenangan-kenangan masa lalu yang ingin kulupakan, kenangan dimana aku kehilangan seseorang yang sangat berarti. Suara air hujan pun terdengar semakin deras, suasana dan aroma air hujan semakin membuatku kembali pada petualangan nostalgia saat aku bersamanya.

***       

       (6 tahun sebelumnya). “riyaan, kamu udah tau nabila mau pindah ke bogor?  Pertanyaan vera spontan membuatku kaget. Apa? Kamu ngga usah bercanda ver..” kataku. “Iih siapa yang bercanda, aku denger sendiri dari ayah aku, katanya dia mau pindah sekolah disana,katanya besok berangkat” .Vera meyakinkanku, “  kenapa nabila ngga bilang ke aku ya” gumamku dalam hati.  “ ya udah makasi ya ver infonya”.   Aku pun langsung bergegas mengayuh sepedaku menuju rumah nabila.

        Aku dan nabila memang sudah berteman sejak kami masih kecil, orang tua kami berteman dekat, sejak kecil aku selalu bermain bersamanya, dia adalah sahabat yang sangat baik, aku juga selalu melindunginya saat dia sedang dibully oleh anak-anak nakal.

        Aku pun semakin cepat mengayuh sepedaku,melewati gang-gang dan kebun teh. sesampainya dirumah nabila aku langsung masuk kerumahnya, dan meletakan sepedaku tanpa memakirkanya, rumah nabila sudah bagaikan rumah kedua bagiku, kulihat rumahnya agak ramai terdapat orang-orang yang mengangkat barang-barang, itu menambah kepanikanku, lalu aku pun menuju taman dibelakang rumahnya, kulihat dia sedang berdiri memandangi bunga-bunga miliknya, lalu aku segera menghampirinya  kamu nyembunyiin sesuatu dari aku kan? Tanyaku. “ nyembunyiin apa si yaan ? aku ngga nyembunyiin apa-apa kok.. kulihat ekspresi nabila mulai berubah. “   kamu kenapa ngga bilang apa-apa ke aku si kalo mau pindah, kenapa mendadak banget ?   “maaf yaan ”  jawabnya dengan wajah menunduk, kulihat air mata mulai membasahi pipinya..
     
      Aku pun berjalan mendekatinya, kuangkat wajahnya yang masih menunduk , kuseka air mata yang mengalir dari pelupuk matanya “ maafin aku bil udah bikin kamu nangis, aku Cuma ngga pengen kamu bohongin aku” . tak tega ku melihatnya menangis, apa lagi melukai perasaanya.

      “ mafin aku yaan,  aku ngga bermaksud boongin kamu, aku Cuma takut aku ngga bakal bisa ninggalin kamu”. Jawab nabila sambil memeluku dan mengusap air matanya dibajuku, aku hanya terdiam. tapi nabila, aku bakal lebih sedih lagi kalo disaat terakhir kita ketemu aku ngga ngasih kenangan indah buat kamu, udah jangan nngis lagii . jawabku sembari melepaskan pelukanya dan kembali menyeka air matanya yang masih mengalir
   
       Terlihat langit semakin gelap, tetesan air hujan pun mulai turun membasahi rumput yang tadinya kering, “ ujan we , masuk rumah yukk”,ucapku. nabila menggelengkan kepalanya, “ ngga mau ah, udah lama kita ngga ujan-ujanan kaya gini, aku pengen ngelewatin hujan yang indah ini bareng kamu, belum tentu kita bisa ujan-ujan kaya gini lagi”.   “ eemb iya juga , ya udah yuk aku temenin kamu ujan-ujanan”,  Jawabku.

      Kami pun berlari menerjang derasnya air hujan, menari-nari tidak jelas sambil mencipratkan air satu sama lain dengan kaki kecil kami, tetesan air hujan bagaikan sebuah tetesan air surga yang melahirkan tawa di wajah kami,  kulihat nabila tertawa lepas sekali tanpa beban, “  haah aku akan merindukan tawanya itu” gumamku. Ini adalah saat-saat terindah yang pernah aku alami seumur hidupku,

      Sebelum tetesan air hujan berhenti menetes aku pun menarik tangannya, mengajaknya berlari menuju suatu tempat, tempat dimana aku selalu menghabiskan waktu denganya,aku membawanya ke kebun teh yang tidak terlalu jauh dari rumah nabila, indahnya suasana kebun teh yang luas dan hijau disertai dengan dinginya tetesan air hujan menambah suasana sendu saat itu,  kugenggam kedua tanganya dan menatapnya dalam-dalam,“ nabilaa, apapun yang terjadi.. kamu harus kembali ya, aku ngga bisa hidup tanpa kamu”.  Lalu kulihat butir-butir air mulai membasahi pipinya,
       kamu ngga papa kan ?  tanyaku
       “yaan, apapun yang terjadi, jangan lupain aku ya”  jawab nabila dengan intonasi lirih.
       iya bil, ngga akan, aku janjii, aku akan selalu nunggu kamu seberapapun lamanya”..
       Nabila pun terluhat tersenyum kecil dengan mata sayu, rambutnya yang panjang bagaikan bidadari sangat cantik dimataku, matanya yang bersinar bagaikan pelangi yang menyinari hatiku.

       Lalu kulihat nabila meraih sesuatu dari sakunya , “  yaan, ini aku ada kenang-kenangan  buat kamu,”. Ucap Nabila sembari menunjukan dua buah kalung liontin padaku. “ ini sepasang , sepasang ada di aku, lalu sepasang lagi ada dikamu, jadi kalo kamu kangen sama aku, kamu genggam aja liontin ini sambil banyangin wajah aku”.  Aku sangat terharu mendengarya. ” makasi ya bil” .. kami pun terdiam selama beberapa detik dan melihat satu sama lain.

        Hujan pun mulai reda, sang mentari mulai muncul menyinari wajah nabila yang tampak makin cantik terkena sinar matahari, menyisakan suasana hening dan haru, “ya udah ya yaan, udah sore aku harus pulang buat siap-siap”  ucap nabila memecahkan keheningan. Betapa sakitnya menyadari bahwa ini adalah saat terakhir aku melihat wajahnya, melihat senyumnya, aku tak ingin saat-saat seperti ini berakhir, waktu benar-benar terasa sangat cepat berlalu.
        Tanpa sadar air mata pun mulai membasahi pipiku, “ iih nangis cengeng banget si kamu, aku ngga pergi buat selamanya kok, ntar kalo aku udah lulus aku bakal balik lagi kok tenang aja”.  Ucap nabila berusaha menyenangkanku, tapi ucapanya sama sekali tidak membuatku senang , tetap saja aku tidak akan melihatnya untuk waktu yang lama, “ iyaa, ya udah yuk aku antar kamu pulang” , kataku sembari mengusap air mataku. “ ngga usah yaan, rumah kita kan berlawanan arah, lagi pula udah sore nanti mama kamu khawatir” jawab nabila dengan nada sedikit memaksa. “ya udah sana kamu jalan dulu” ucapku. Perlahan-lahan nabila pun mulai berjalan menjauh, ” riyaan, tunggu aku yaa”, teriak nabila dari kejauhan sambil melambaikan tangan, aku hanya tersenyum sambil membalas melambaikan tangan, nabila pun mulai menjauh, kulihat dia berjalan diantara pepohonan teh yang hujau, perlahan pundaknya mulai terlihat mengecil dan mengecil, kemudian menghilang meninggalkan ku sendirian berdiri diantara pepohonan teh, itu adalah saat-saat terakhir aku melihatnya.


       ***

       Bruukkk.. seseorang menabraku, memecahkan semua lamunanku, “  ehh kalo jalan liat-liat dong”.  Ucapku, “ hiih orang kamu yang salah kok ngelamun di tengah jalan, cepat minta maaf sama aku” . jawabnya membentak, “ haah dasar cewek ngga pernah mau ngalah”  ucapku dalam hati, kulihat matanya tampak familliar, seolah aku pernah mengenalnya , karena gugup aku pun langsung meminta maaf dan berlari menuju kelas karena sudah masuk.
      
      Haah,betapa beruntungnya aku saat masuk kelas ternyata pak ahlis belum masuk, aku pun langsung menuju kursiku dan duduk, hari ini jam pertama adalah matematika, pelajaran yang tidak terlalu aku sukai, apalagi yang ngajar galak banget,
heeh dari mane aje luu baru dateng” ?  tanya shidqi teman sebangkuku.
 iya tadi gue abis nabrak nenek sihir” jawabku , . 
“siapaa? “  shidki kembali bertanya .
“ ngga tau anak baru kayanya”. ´ jawabku dengan cuek.
  “pak ahlis belum dateng ? ...
“belum, kosong paling, biasa lah pak ahlis kan orang sibuk”..
“ haah syukurlah , semoga aja benar-benar kosoong amiiin”

       “assalamualaikum anak-anak”, pak ahlis masuk kelas. Yaah ngga kosong , suara pak ahlis bagaikan guntur yang menghancurkan harapan pelajaran kosong. Akan tetapi pak ahlis tidak datang sendiri, dia bersama anak baru yang menabraku tadi.. “ yaah sekelas sama anak judes itu, “  gumamku dalam hati kesal.
pagi semuanya, hari ini kita kedatangan murid baru dari luar kota, silahkan perkenalkan diri kamu”  kata pak ahlis.
“selamat pagi , kenalin nama aku nabila, aku dari bogor, semoga kita bisa menjadi teman yang baik”.  Ucap anak baru itu.
       Nabila? Dari bogor ?  Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar telingaku,Betapa terkejutnya aku mendengarnya, apakah dia nabila teman masa kecilku, pantas saja dia tampak familiar dimataku, sejenak aku merasa bahagia, tetapi aku juga merasa bingung apakah dia nabila teman masa kecilku atau bukan, kalau dia memang nabila seharusnya dia kembali tahun depan, seharusnya dia juga mengenali aku, dia juga seharusnya mengabariku, wajahnya juga tampak berbeda dari nabila yang dulu, rambutnya lebih pendek,  lalu siapa sebenarnya dia? 

Cerpen by : zakki fuadi



      

      
     
      

Selasa, 12 April 2016

horor



                              afraid

       Sore itu sepulang sekolah aku berkumpul di perpustakaan sekolah bersama kelompok ku untuk mempersiapkan tugas kelompok geografi dengan bu sulastri , memang menyebalkan sekali disaat anak-anak lain sudah pulang kami masih disekolah, apalagi sore itu gelap sekali karena cuaca mendung dan sepertinya akan hujan deras.

      Bu sulastri pun dari tadi belum juga datang, padahal seharusnya dia sudah datang dari 40 menit yang lalu, padahal jam sudah menunjukan pukul 5 sore tapi bu sulasrtri belum datang juga, sore itu pun semakin gelap, dan suasana semakin hening, hanya ada suara guntur yang selalu bergemuruh keras.

      Lalu setelah beberapa menit kemudian akhirnya bu sulastri pun datang, "haah akhirnya buguru datang juga" kataku dalam hati. Akan tetapi bu sulastri tampak sangat berbeda dari biasanya,ia tampak kedinginan, wajahnya pucat pasi dan matanya sangat hitam, aku dan temanku hendak menanyakan keadaanya tapi kami terlalu takut, karena bu sulastri terkenal dengan sifat yang galak, kami pun mengurungkan niat kami untuk bertanya. Kemudian Bu sulastri menyuruhku untuk menutup semua pintu dan jendela agar ruangan kelas tidak terlalu dingin.

      Setelah kututup semua pintu dan jendela pun aku kembali duduk di kursi kelasku, tapi waktu itu bu sulastri tampak aneh, dia tampak murung,  dia hanya diam dan tidak berkata apa-apa, seharusnya dia menjelaskan materi,  tapi sore itu dia hanya diam dan hanya memandangi bagian pojok belakang kelas dengan mata yang melotot, dan sekali-kali tersenyum sendiri, dan pada saat hanna salah satu teman kami ijin pergi kekamar mandi pun dia tetap diam,  dan Kami pun mejadi takut pada saat itu karena bu sulastri tampak sangat berbeda dari biasanya.

      Sore itu pun semakin mencengkam, sampai pada akhirnya terdengar suara jeritan perempuan yang amat keras dari arah kamar mandi, aku dan kelompoku pun langsung bergegas –gegas berlari menuju sumber suara tersebut dan meninggalkan bu sulastri didalam kelas, ternyata itu adalah suara hanna yang tampak sangat ketakutan, dia tampak sedang melihat sesuatu, kami pun langsung bergegas berlari kearahnya, dan sungguh sangat mengejutkan terhadap apa yang kami lihat, aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang ada didepan kedua mataku, ternyata didalam kamar mandi terdapat bu sulastri yang sudah tergantung dengan tali putih dan mulut penuh darah, dia bunuh diri didalam kamar mandi, kami pun sangat terkejut dan langsung memanggil pihak kepolisian, akan tetapi siapa sosok yang tadi dikelas kami, kami benar-benar panik pada saat itu, lalu secara tiba-tiba semua lampu disekolah mati, dan kran yang tadinya hidup secara tiba-tiba juga mati, kami pun langsung terdiam dan melihat antara satu sama lain, suasana tiba-tiba menjadi hening , lalu betapa kagetnya kami ternyata bu sulastri sudah berdiri dibelakang kami, dia terlihat menggenggam pisau belati dan tali warna putih dengan mata melotot penuh darah, lalu kemudiannn... ( bersambung)

      

    
Cerpen by : zakki fuadi