First love
Pukul tujuh.. Jam pertama.. bel
masuk pun terdengar, bersama dengan suara tetesan air hujan yang mulai menetesi
lapangan basket sekolah, “haah hujan lagi-hujan lagi” kataku dalam hati.Aku memang benci hujan,
tetesan air hujan bagaikan sebuah magnet yang selalu menarik kembali
kenangan-kenangan masa lalu yang ingin kulupakan, kenangan dimana aku
kehilangan seseorang yang sangat berarti. Suara air hujan pun terdengar semakin
deras, suasana dan aroma air hujan semakin membuatku kembali pada petualangan
nostalgia saat aku bersamanya.
***
(6 tahun sebelumnya). “riyaan, kamu
udah tau nabila mau pindah ke bogor? Pertanyaan vera spontan membuatku kaget. Apa?
Kamu ngga usah bercanda ver..” kataku. “Iih siapa yang bercanda, aku denger
sendiri dari ayah aku, katanya dia mau pindah sekolah disana,katanya besok
berangkat” .Vera meyakinkanku, “ kenapa nabila ngga bilang ke aku ya”
gumamku dalam hati. “ ya udah makasi
ya ver infonya”. Aku pun langsung bergegas mengayuh sepedaku
menuju rumah nabila.
Aku dan nabila memang sudah berteman
sejak kami masih kecil, orang tua kami berteman dekat, sejak kecil aku selalu
bermain bersamanya, dia adalah sahabat yang sangat baik, aku juga selalu
melindunginya saat dia sedang dibully oleh anak-anak nakal.
Aku pun semakin cepat mengayuh sepedaku,melewati
gang-gang dan kebun teh. sesampainya dirumah nabila aku langsung masuk
kerumahnya, dan meletakan sepedaku tanpa memakirkanya, rumah nabila sudah
bagaikan rumah kedua bagiku, kulihat rumahnya agak ramai terdapat orang-orang
yang mengangkat barang-barang, itu menambah kepanikanku, lalu aku pun menuju
taman dibelakang rumahnya, kulihat dia sedang berdiri memandangi bunga-bunga
miliknya, lalu aku segera menghampirinya
” kamu nyembunyiin sesuatu dari aku kan? Tanyaku. “
nyembunyiin apa si yaan ? aku ngga nyembunyiin apa-apa kok.. kulihat
ekspresi nabila mulai berubah. “ kamu kenapa ngga bilang apa-apa ke aku si kalo
mau pindah, kenapa mendadak banget ? “maaf yaan ” jawabnya dengan wajah menunduk, kulihat air
mata mulai membasahi pipinya..
Aku pun berjalan mendekatinya, kuangkat
wajahnya yang masih menunduk , kuseka air mata yang mengalir dari pelupuk
matanya “ maafin aku bil udah bikin kamu nangis, aku Cuma ngga pengen kamu
bohongin aku” . tak tega ku melihatnya menangis, apa lagi melukai
perasaanya.
“ mafin aku yaan, aku ngga bermaksud boongin kamu, aku Cuma
takut aku ngga bakal bisa ninggalin kamu”. Jawab nabila sambil memeluku dan
mengusap air matanya dibajuku, aku hanya terdiam. “tapi
nabila, aku bakal lebih sedih lagi kalo disaat terakhir kita ketemu aku ngga
ngasih kenangan indah buat kamu, udah jangan nngis lagii . jawabku sembari
melepaskan pelukanya dan kembali menyeka air matanya yang masih mengalir
Terlihat langit semakin gelap, tetesan
air hujan pun mulai turun membasahi rumput yang tadinya kering, “ ujan we ,
masuk rumah yukk”,ucapku. nabila menggelengkan kepalanya, “ ngga mau ah,
udah lama kita ngga ujan-ujanan kaya gini, aku pengen ngelewatin hujan yang
indah ini bareng kamu, belum tentu kita bisa ujan-ujan kaya gini lagi”. “
eemb iya juga , ya udah yuk aku temenin kamu ujan-ujanan”, Jawabku.
Kami pun berlari
menerjang derasnya air hujan, menari-nari tidak jelas sambil mencipratkan air
satu sama lain dengan kaki kecil kami, tetesan air hujan bagaikan sebuah
tetesan air surga yang melahirkan tawa di wajah kami, kulihat nabila tertawa lepas sekali tanpa
beban, “ haah aku akan merindukan tawanya
itu” gumamku. Ini adalah saat-saat terindah yang pernah aku alami seumur
hidupku,
Sebelum tetesan air hujan berhenti menetes
aku pun menarik tangannya, mengajaknya berlari menuju suatu tempat, tempat
dimana aku selalu menghabiskan waktu denganya,aku membawanya ke kebun teh yang
tidak terlalu jauh dari rumah nabila, indahnya suasana kebun teh yang luas dan
hijau disertai dengan dinginya tetesan air hujan menambah suasana sendu saat
itu, kugenggam kedua tanganya dan
menatapnya dalam-dalam,“ nabilaa, apapun yang terjadi.. kamu harus kembali
ya, aku ngga bisa hidup tanpa kamu”.
Lalu kulihat butir-butir air mulai membasahi pipinya,
“ kamu ngga papa kan ? tanyaku
“yaan, apapun yang terjadi, jangan
lupain aku ya” jawab nabila dengan
intonasi lirih.
” iya bil, ngga akan, aku janjii, aku
akan selalu nunggu kamu seberapapun lamanya”..
Nabila pun terluhat
tersenyum kecil dengan mata sayu, rambutnya yang panjang bagaikan bidadari
sangat cantik dimataku, matanya yang bersinar bagaikan pelangi yang menyinari
hatiku.
Lalu kulihat nabila meraih sesuatu dari
sakunya , “ yaan, ini aku ada
kenang-kenangan buat kamu,”. Ucap
Nabila sembari menunjukan dua buah kalung liontin padaku. “ ini sepasang ,
sepasang ada di aku, lalu sepasang lagi ada dikamu, jadi kalo kamu kangen sama
aku, kamu genggam aja liontin ini sambil banyangin wajah aku”. Aku sangat terharu mendengarya. ” makasi ya
bil” .. kami pun terdiam selama beberapa detik dan melihat satu sama lain.
Hujan
pun mulai reda, sang mentari mulai muncul menyinari wajah nabila yang tampak
makin cantik terkena sinar matahari, menyisakan suasana hening dan haru, “ya
udah ya yaan, udah sore aku harus pulang buat siap-siap” ucap nabila memecahkan keheningan. Betapa
sakitnya menyadari bahwa ini adalah saat terakhir aku melihat wajahnya, melihat
senyumnya, aku tak ingin saat-saat seperti ini berakhir, waktu benar-benar
terasa sangat cepat berlalu.
Tanpa sadar air mata pun mulai
membasahi pipiku, “ iih nangis cengeng banget si kamu, aku ngga pergi buat
selamanya kok, ntar kalo aku udah lulus aku bakal balik lagi kok tenang aja”. Ucap nabila berusaha menyenangkanku, tapi
ucapanya sama sekali tidak membuatku senang , tetap saja aku tidak akan
melihatnya untuk waktu yang lama, “ iyaa, ya udah yuk aku antar kamu pulang”
, kataku sembari mengusap air mataku. “ ngga usah yaan, rumah kita kan
berlawanan arah, lagi pula udah sore nanti mama kamu khawatir” jawab nabila
dengan nada sedikit memaksa. “ya udah sana kamu jalan dulu” ucapku.
Perlahan-lahan nabila pun mulai berjalan menjauh, ” riyaan, tunggu aku yaa”,
teriak nabila dari kejauhan sambil melambaikan tangan, aku hanya tersenyum
sambil membalas melambaikan tangan, nabila pun mulai menjauh, kulihat dia
berjalan diantara pepohonan teh yang hujau, perlahan pundaknya mulai terlihat
mengecil dan mengecil, kemudian menghilang meninggalkan ku sendirian berdiri
diantara pepohonan teh, itu adalah saat-saat terakhir aku melihatnya.
***
Bruukkk.. seseorang menabraku,
memecahkan semua lamunanku, “ ehh
kalo jalan liat-liat dong”. Ucapku,
“ hiih orang kamu yang salah kok ngelamun di tengah jalan, cepat minta maaf
sama aku” . jawabnya membentak, “ haah dasar cewek ngga pernah mau
ngalah” ucapku dalam hati, kulihat
matanya tampak familliar, seolah aku pernah mengenalnya , karena gugup aku pun
langsung meminta maaf dan berlari menuju kelas karena sudah masuk.
Haah,betapa beruntungnya aku saat masuk kelas
ternyata pak ahlis belum masuk, aku pun langsung menuju kursiku dan duduk, hari
ini jam pertama adalah matematika, pelajaran yang tidak terlalu aku sukai,
apalagi yang ngajar galak banget,
“ heeh dari mane
aje luu baru dateng” ? tanya shidqi
teman sebangkuku.
” iya tadi gue abis nabrak nenek sihir” jawabku
, .
“siapaa? “ shidki kembali bertanya .
“ ngga tau anak
baru kayanya”. ´ jawabku dengan cuek.
“pak ahlis belum dateng ? ...
“belum, kosong
paling, biasa lah pak ahlis kan orang sibuk”..
“ haah syukurlah
, semoga aja benar-benar kosoong amiiin”
“assalamualaikum anak-anak”, pak ahlis masuk kelas. Yaah ngga kosong , suara pak ahlis bagaikan
guntur yang menghancurkan harapan pelajaran kosong. Akan tetapi pak ahlis tidak
datang sendiri, dia bersama anak baru yang menabraku tadi.. “ yaah sekelas
sama anak judes itu, “ gumamku dalam
hati kesal.
“ pagi semuanya,
hari ini kita kedatangan murid baru dari luar kota, silahkan perkenalkan diri
kamu” kata pak ahlis.
“selamat pagi ,
kenalin nama aku nabila, aku dari bogor, semoga kita bisa menjadi teman yang
baik”. Ucap
anak baru itu.
Nabila? Dari bogor ? Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar
telingaku,Betapa terkejutnya aku mendengarnya, apakah dia nabila teman masa
kecilku, pantas saja dia tampak familiar dimataku, sejenak aku merasa bahagia,
tetapi aku juga merasa bingung apakah dia nabila teman masa kecilku atau bukan,
kalau dia memang nabila seharusnya dia kembali tahun depan, seharusnya dia juga
mengenali aku, dia juga seharusnya mengabariku, wajahnya juga tampak berbeda
dari nabila yang dulu, rambutnya lebih pendek,
lalu siapa sebenarnya dia?
Cerpen by : zakki
fuadi
Cliffhangernya kurang mengena karena konsep ceritanya sendiri yang terlalu sederhana dan mudah ditebak.
BalasHapusTapi dengan belajar yang cukup seharusnya itu masalah yang mudah diperbaiki, yang penting jangan patah semangat menulis!